Takut,
cemas, panik... Ya, itulah sebagian ungkapan yang dapat mewakili perasaan para
saksi terror yang terjadi di Paris, Perancis beberapa saat yang lalu. Tangisan dan jeritan pun telah menjadi lagu pengiring
bagi para saksi yang kebingungan menyelamatkan diri mereka dari kebiadaban para
pelaku teror ini. Tepatnya pada tanggal 13 November 2015, dunia kembali berduka
dengan terjadinya serangan teror di Paris yang dilakukan oleh sekelompok orang
yang diduga adalah kelompok ISIS. Banyak nyawa yang jatuh bergelimpangan dengan
jumlah sekitar 150 jiwa dan korban luka-luka sekitar 352 orang. Tragedi ini
telah mendapatkan perhatian dan kecaman dari dunia internasional, tidak lepas
Indonesia pun juga mengecam dan berduka atas peristiwa berdarah ini. Peristiwa
ini tidak luput mendapatkan perhatian dari para pemuda kampus UNY, khususnya
dari HTI Chapter Kampus UNY. Pada tanggal 25 November 2015, HTI Chapter Kampus
UNY memasukkan tema terror ini kedalam agenda rutinnya, yaitu dalam acara NGOPI
(Ngobrol Pemikiran Islam) edisi ke-28, dengan Tema: ”Kado Cinta Paris Untuk
Syiria” dengan pemantik bung Hanif, yang bertempat di Halaman Rektorat UNY.
Walaupun angin dan hujan terasa menusuk kedalam jiwa,
namun hal ini tidak menciutkan semangat dan rasa ingin tahu para peserta NGOPI
edisi ke-28 ini. Justru pasukan hujan yang turun ini bagaikan sahabat yang siap
mengiringi berlangsungnya diskusi yang berjalan pada sore hari itu. Diskusi
dibuka dan dipandu oleh saudara Hanif, mahasiswa FIP UNY, sebagai pemantik pada
NGOPI edisi ke-28 ini. Pemantik membuka diskusi dengan memaparkan mengenai
tragedi teror Paris yang terjadi pada tanggal 13 November ini. Menurutnya,
teror yang terjadi di Paris ini sangat ironis, karena faktanya jika dilihat
dari jumlah korban yang meninggal dunia memang tidak terlalu besar. Hanya
berjumlah sekitar 150 jiwa, namun yang bersimpati bukan hanya masyarakat dari negeri
ayam jantan ini saja, seluruh dunia pun turut berduka atas terjadinya peristiwa
berdarah ini. Padahal, jika dilihat secara keseluruhan, tragedi yang terjadi di
negeri-negeri kaum muslimin jauh lebih banyak memakan korban. Tidak hanya
ratusan, namun hingga ratusan-ribu jiwa telah menjadi korban. Tetapi apa yang
terjadi dengan dunia ini. Dunia hanya diam seribu bahasa. Seolah
tragedi-tragedi tersebut merupakan hal yang tidak penting dan tidak dianggap
sebagai tragedi kemanusiaan. Ya, ini sangat ironis. Kaum muslimin yang
dijanjikan sebagai umat terbaik, justru malah diacuhkan dan dianggap sebagai
sampah yang tidak bernilai sepeser pun.
Hanif menambahkan bahwa tragedi Paris ini hanyalah siasat
barat untuk menjatuhkan martabat dan citra kaum muslimin dengan mengaitkan umat
islam dengan terorisme. Lagi-lagi Perancis dan dunia menduga bahwa pelakunya
adalah ISIS, yang berlabelkan Islam. Memang benar bahwa ISIS telah melenceng
dari ajaran islam, dan mungkin mereka tidak pantas disebut islam. Namun secara
umum, dengan adanya tuduhan ini yang mungkin bisa dibenarkan ataupun tidak,
citra umat islam telah ternodai. Terbukti dengan meningkatnya Islamophobia yang terjadi di
negara-negara Eropa, bahkan hingga ke Indonesia sendiri. Setelah peristiwa keji
ini terjadi, banyak orang yang mulai mendiskriminasi kaum muslimin khususnya di
Perancis. Masjid-masjid di negeri ayam jantan itu mulai mendapat pengawasan dan
pemantauan ketat dari otoritas setempat. Di Indonesia sendiri mulai banyak
orang yang mengaitkan orang berjenggot dengan ISIS. Entah itu berupa candaan
atau kenyataan, namun secara tidak langsung sindiran ini bisa dijadikan bukti
akan keberhasilan barat dalam merusak citra islam. Jenggot yang pada dasarnya
adalah Sunnah, justru malah dijadikan sebagai alasan untuk mengaitkannya dengan
terorisme. Sungguh Ironis!!! Tidak hanya dunia nyata yang mengungkapkan rasa
simpatinya terhadap tragedi terror Paris. Dunia maya pun ikut mengungkapkan
rasa simpatinya yang disalurkan melalui media sosial seperti Facebook,
Twitter,dll. Terbukti setelah tragedi Paris ini booming, banyak netizen yang mengganti foto profil mereka dengan
latarbelakang bendera Perancis sebagai ungkapan duka cita mereka terhadap
Korban Paris. Hanif menyatakan bahwa ”sebagai umat islam, kita sebaiknya lebih
bersimpati kepada negeri muslim”. Terkait dengan pernyataan pemantik ini,
terdapat beberapa netizen muslimin yang mencoba mengingatkan dunia bahwa Paris
bukanlah satu-satunya korban teror. Masih banyak negera-negara lainnya,
khususnya negeri-negeri islam yang menjadi korban teror, seperti Suriah, Iraq, Indonesia, dan Palestina yang memiliki korban
jiwa lebih banyak daripada di Paris. Namun tidak banyak yang peduli. Para facebookers yang peduli dengan nasib
negeri-negeri muslim ini pun turut menunjukkan kepeduliaannya dengan mengganti
foto profil mereka dengan latarbelakang bendera-bendera negeri muslim.
Setelah pemantik memaparkan permasalahan mengenai tema
pada sore hari itu, acara dilanjutkan dengan sesi pertanyaan dan diskusi
bersama. Pertanyaan pertama dilontarkan oleh saudara Alfi. Beliau menanyakan
dari semua negara yang ada di dunia ini, mengapa Paris yang diserang? Beliau
juga menambahkan apakah teror yang terjadi di Paris berkaitan dengan
penyerangan Perancis terhadap Suriah. Namun pada akhirnya beliau sendiri
menjawab bahwa ini semua merupakan sebuah propaganda yang disebabkan oleh
meningkatnya jumlah umat islam di Eropa yang sangat pesat. Menurut Alfi, barat
kehilangan akal sehingga melakukan propaganda ini.
Diskusi pun dilanjutkan dengan pemaparan saudara
Zulfikar. Beliau memaparkan bahwa isu teror di sebuah restoran dan stadion di
Paris ini membuat kita bertanya-tanya mengenai identitas si pelaku tersebut.
Apakah teror ini benar dilakukan oleh ISIS atau oleh orang yang ingin menambah
citra buruk ISIS. Menurut Zulfikar, ini kemungkinan hanyalah cara barat dalam
membuat buruk citra islam agar orang-orang antipati dan memerangi islam. Suatu
hal yang dilakukan tentu tidak akan lepas dari hukum sebab-akibat. Terdapat 2
alasan mengapa barat memusuhi islam. Yang pertama adalah dendam historis pasca
perang salib. Sewaktu perang salib, sejarah membuktikan bahwa pasukan salib ini
mengalami kesulitan dalam melawan negara khilafah. Alasan kedua adalah kesalahpahaman barat
akibat studi orientalisme masa lalu. Pada studi orientalisme ini
kebaikan-kebaikan islam cenderung tidak ditampilkan dan islam malah mereka
anggap sebagai biang-kerok masalah. Namun dibalik fitnah terhadap islam ini
tentunya mengandung sebuah hikmah. Dengan adanya teror yang di suatu sisi
merugikan dan membuat buruk citra islam, di sisi lain peristiwa ini juga
membuat banyak orang menjadi penasaran terhadap islam. Dengan munculnya rasa penasaran ini, diharapkan
agar orang-orang ini lebih mengenal islam sebagai suatu ajaran yang mengajarkan
kedamaian dan mengharamkan kekerasan.
Diskusi ini pun ditutup oleh pertanyaan saudara Alfi yang
menanyakan apakah dampak tragedi ini sampai ke Indonesia ataukah tidak. Pemantik pun menjawabnya dengan pernyataan
bahwa presiden Jokowi pun telah memberikan simpatinya. Tentu ini bisa dimaknai
bahwa tragedi ini sudah memberikan dampak terhadap Indonesia terhadap sikap
para petinggi negeri ini. Selain itu, keamanan negeri ini pun mulai mendapat
pengamanan ketat dari para aparat untuk menghindari kejadian serupa terjadi di
negeri ini.
Tragedi yang terjadi di Paris ini memanglah merupakan
sebuah tragedi yang patut menuai kecaman dari seluruh negera, mengingat tragedi
ini banyak menjatuhkan korban jiwa dan membuat banyak jiwa terluka. Terlepas
apakah pelaku penyerangan ini adalah kelompok ISIS ataupun bukan, sebuah negara
sudah sepantasnya meningkatkan keamanan dalam negerinya agar kejadian seperti
ini tidak terulang kembali. Sebagai sesama makhluk ciptaan Allah, memang sudah
sepatutnya jika kita memberikan simpati kita terhadap para korban teror Paris
ini. Namun sebagai seorang muslim, kita tidak boleh menutup mata terhadap teror
dan serangan yang dilakukan oleh orang-orang kafir munafik terhadap
negeri-negeri muslim di dunia ini, karena muslim yang satu dengan muslim
lainnya adalah ibarat satu anggota tubuh yang jika satu bagian terasa sakit,
maka bagian lainnya juga akan ikut merasakannya. Kita selain dianjurkan untuk
membantu saudara-saudara muslim kita dalam bentuk doa, kita juga dianjurkan
untuk memberi bantuan secara materi maupun fisik. Bentuk bantuan yang terbaik
bukanlah dengan cara memberikan donasi berupa uang, sandang, ataupun pakan.
Karena bantuan seperti ini hanya bersifat sementara. Bantuan yang terbaik
adalah bantuan yang disalurkan melalui negara dimana bantuan tersebut dapat
mencakup segala aspek. Bantuan seperti ini tidak akan terwujud kecuali dengan
ditegakkannya negara khilafah islamiyah dalam satu naungan kepemimpinan seorang
khalifah.
Wallahu a’lam bish-shawab.





