BREAKING NEWS

Wednesday, December 9, 2015

KADO CINTA PARIS UNTUK SYIRIA


Takut, cemas, panik... Ya, itulah sebagian ungkapan yang dapat mewakili perasaan para saksi terror yang terjadi di Paris, Perancis beberapa saat yang lalu. Tangisan dan jeritan pun telah menjadi lagu pengiring bagi para saksi yang kebingungan menyelamatkan diri mereka dari kebiadaban para pelaku teror ini. Tepatnya pada tanggal 13 November 2015, dunia kembali berduka dengan terjadinya serangan teror di Paris yang dilakukan oleh sekelompok orang yang diduga adalah kelompok ISIS. Banyak nyawa yang jatuh bergelimpangan dengan jumlah sekitar 150 jiwa dan korban luka-luka sekitar 352 orang. Tragedi ini telah mendapatkan perhatian dan kecaman dari dunia internasional, tidak lepas Indonesia pun juga mengecam dan berduka atas peristiwa berdarah ini. Peristiwa ini tidak luput mendapatkan perhatian dari para pemuda kampus UNY, khususnya dari HTI Chapter Kampus UNY. Pada tanggal 25 November 2015, HTI Chapter Kampus UNY memasukkan tema terror ini kedalam agenda rutinnya, yaitu dalam acara NGOPI (Ngobrol Pemikiran Islam) edisi ke-28, dengan Tema: ”Kado Cinta Paris Untuk Syiria” dengan pemantik bung Hanif, yang bertempat di Halaman Rektorat UNY.
Walaupun angin dan hujan terasa menusuk kedalam jiwa, namun hal ini tidak menciutkan semangat dan rasa ingin tahu para peserta NGOPI edisi ke-28 ini. Justru pasukan hujan yang turun ini bagaikan sahabat yang siap mengiringi berlangsungnya diskusi yang berjalan pada sore hari itu. Diskusi dibuka dan dipandu oleh saudara Hanif, mahasiswa FIP UNY, sebagai pemantik pada NGOPI edisi ke-28 ini. Pemantik membuka diskusi dengan memaparkan mengenai tragedi teror Paris yang terjadi pada tanggal 13 November ini. Menurutnya, teror yang terjadi di Paris ini sangat ironis, karena faktanya jika dilihat dari jumlah korban yang meninggal dunia memang tidak terlalu besar. Hanya berjumlah sekitar 150 jiwa, namun yang bersimpati bukan hanya masyarakat dari negeri ayam jantan ini saja, seluruh dunia pun turut berduka atas terjadinya peristiwa berdarah ini. Padahal, jika dilihat secara keseluruhan, tragedi yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin jauh lebih banyak memakan korban. Tidak hanya ratusan, namun hingga ratusan-ribu jiwa telah menjadi korban. Tetapi apa yang terjadi dengan dunia ini. Dunia hanya diam seribu bahasa. Seolah tragedi-tragedi tersebut merupakan hal yang tidak penting dan tidak dianggap sebagai tragedi kemanusiaan. Ya, ini sangat ironis. Kaum muslimin yang dijanjikan sebagai umat terbaik, justru malah diacuhkan dan dianggap sebagai sampah yang tidak bernilai sepeser pun.
Hanif menambahkan bahwa tragedi Paris ini hanyalah siasat barat untuk menjatuhkan martabat dan citra kaum muslimin dengan mengaitkan umat islam dengan terorisme. Lagi-lagi Perancis dan dunia menduga bahwa pelakunya adalah ISIS, yang berlabelkan Islam. Memang benar bahwa ISIS telah melenceng dari ajaran islam, dan mungkin mereka tidak pantas disebut islam. Namun secara umum, dengan adanya tuduhan ini yang mungkin bisa dibenarkan ataupun tidak, citra umat islam telah ternodai. Terbukti dengan meningkatnya Islamophobia yang terjadi di negara-negara Eropa, bahkan hingga ke Indonesia sendiri. Setelah peristiwa keji ini terjadi, banyak orang yang mulai mendiskriminasi kaum muslimin khususnya di Perancis. Masjid-masjid di negeri ayam jantan itu mulai mendapat pengawasan dan pemantauan ketat dari otoritas setempat. Di Indonesia sendiri mulai banyak orang yang mengaitkan orang berjenggot dengan ISIS. Entah itu berupa candaan atau kenyataan, namun secara tidak langsung sindiran ini bisa dijadikan bukti akan keberhasilan barat dalam merusak citra islam. Jenggot yang pada dasarnya adalah Sunnah, justru malah dijadikan sebagai alasan untuk mengaitkannya dengan terorisme. Sungguh Ironis!!! Tidak hanya dunia nyata yang mengungkapkan rasa simpatinya terhadap tragedi terror Paris. Dunia maya pun ikut mengungkapkan rasa simpatinya yang disalurkan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter,dll. Terbukti setelah tragedi Paris ini booming, banyak netizen yang mengganti foto profil mereka dengan latarbelakang bendera Perancis sebagai ungkapan duka cita mereka terhadap Korban Paris. Hanif menyatakan bahwa ”sebagai umat islam, kita sebaiknya lebih bersimpati kepada negeri muslim”. Terkait dengan pernyataan pemantik ini, terdapat beberapa netizen muslimin yang mencoba mengingatkan dunia bahwa Paris bukanlah satu-satunya korban teror. Masih banyak negera-negara lainnya, khususnya negeri-negeri islam yang menjadi korban teror, seperti Suriah, Iraq,  Indonesia, dan Palestina yang memiliki korban jiwa lebih banyak daripada di Paris. Namun tidak banyak yang peduli. Para facebookers yang peduli dengan nasib negeri-negeri muslim ini pun turut menunjukkan kepeduliaannya dengan mengganti foto profil mereka dengan latarbelakang bendera-bendera negeri muslim.
Setelah pemantik memaparkan permasalahan mengenai tema pada sore hari itu, acara dilanjutkan dengan sesi pertanyaan dan diskusi bersama. Pertanyaan pertama dilontarkan oleh saudara Alfi. Beliau menanyakan dari semua negara yang ada di dunia ini, mengapa Paris yang diserang? Beliau juga menambahkan apakah teror yang terjadi di Paris berkaitan dengan penyerangan Perancis terhadap Suriah. Namun pada akhirnya beliau sendiri menjawab bahwa ini semua merupakan sebuah propaganda yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah umat islam di Eropa yang sangat pesat. Menurut Alfi, barat kehilangan akal sehingga melakukan propaganda ini.
Diskusi pun dilanjutkan dengan pemaparan saudara Zulfikar. Beliau memaparkan bahwa isu teror di sebuah restoran dan stadion di Paris ini membuat kita bertanya-tanya mengenai identitas si pelaku tersebut. Apakah teror ini benar dilakukan oleh ISIS atau oleh orang yang ingin menambah citra buruk ISIS. Menurut Zulfikar, ini kemungkinan hanyalah cara barat dalam membuat buruk citra islam agar orang-orang antipati dan memerangi islam. Suatu hal yang dilakukan tentu tidak akan lepas dari hukum sebab-akibat. Terdapat 2 alasan mengapa barat memusuhi islam. Yang pertama adalah dendam historis pasca perang salib. Sewaktu perang salib, sejarah membuktikan bahwa pasukan salib ini mengalami kesulitan dalam melawan negara khilafah.  Alasan kedua adalah kesalahpahaman barat akibat studi orientalisme masa lalu. Pada studi orientalisme ini kebaikan-kebaikan islam cenderung tidak ditampilkan dan islam malah mereka anggap sebagai biang-kerok masalah. Namun dibalik fitnah terhadap islam ini tentunya mengandung sebuah hikmah. Dengan adanya teror yang di suatu sisi merugikan dan membuat buruk citra islam, di sisi lain peristiwa ini juga membuat banyak orang menjadi penasaran terhadap islam.  Dengan munculnya rasa penasaran ini, diharapkan agar orang-orang ini lebih mengenal islam sebagai suatu ajaran yang mengajarkan kedamaian dan mengharamkan kekerasan.
Diskusi ini pun ditutup oleh pertanyaan saudara Alfi yang menanyakan apakah dampak tragedi ini sampai ke Indonesia ataukah tidak.  Pemantik pun menjawabnya dengan pernyataan bahwa presiden Jokowi pun telah memberikan simpatinya. Tentu ini bisa dimaknai bahwa tragedi ini sudah memberikan dampak terhadap Indonesia terhadap sikap para petinggi negeri ini. Selain itu, keamanan negeri ini pun mulai mendapat pengamanan ketat dari para aparat untuk menghindari kejadian serupa terjadi di negeri ini.
Tragedi yang terjadi di Paris ini memanglah merupakan sebuah tragedi yang patut menuai kecaman dari seluruh negera, mengingat tragedi ini banyak menjatuhkan korban jiwa dan membuat banyak jiwa terluka. Terlepas apakah pelaku penyerangan ini adalah kelompok ISIS ataupun bukan, sebuah negara sudah sepantasnya meningkatkan keamanan dalam negerinya agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Sebagai sesama makhluk ciptaan Allah, memang sudah sepatutnya jika kita memberikan simpati kita terhadap para korban teror Paris ini. Namun sebagai seorang muslim, kita tidak boleh menutup mata terhadap teror dan serangan yang dilakukan oleh orang-orang kafir munafik terhadap negeri-negeri muslim di dunia ini, karena muslim yang satu dengan muslim lainnya adalah ibarat satu anggota tubuh yang jika satu bagian terasa sakit, maka bagian lainnya juga akan ikut merasakannya. Kita selain dianjurkan untuk membantu saudara-saudara muslim kita dalam bentuk doa, kita juga dianjurkan untuk memberi bantuan secara materi maupun fisik. Bentuk bantuan yang terbaik bukanlah dengan cara memberikan donasi berupa uang, sandang, ataupun pakan. Karena bantuan seperti ini hanya bersifat sementara. Bantuan yang terbaik adalah bantuan yang disalurkan melalui negara dimana bantuan tersebut dapat mencakup segala aspek. Bantuan seperti ini tidak akan terwujud kecuali dengan ditegakkannya negara khilafah islamiyah dalam satu naungan kepemimpinan seorang khalifah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Share this:

1 comment :

 
Back To Top
Copyright © 2014 HTI Chapter UNY. Designed by OddThemes